Minggu, 13 Maret 2011

MENGGALI HIKMAH DI SEBALIK MUSIBAH

MENGGALI HIKMAH DI SEBALIK MUSIBAH
( Catatan Perjalanan Lukman Syarif, Relawan PMD dan BAZ Kota Dumai )

Petuah orangtua kita bahwa “Tidaklah pokok bergoyang kalau tidak ada angin yang berembus” dan “kalau ada asap tentu ada api” selalu membayangi benak penulis sesaat setelah gempa besar berskala 7,6 yang menimpa saudara kita, ummat Islam di Sumatera Barat. Rasa ingin tahu dan semangat cinta ilmu dan dorongan semangat ukhuwah Islamiyah di dalam hati mendorong penulis untuk mengutarakan sebuah usul sederhana, agar Persatuan Muballigh Kota Dumai mengirim beberapa orang relawan mendampingi relawan Pemerintah Kota Dumai yang dipimpin langsung oleh H. Sunaryo Wakil Walikota Dumai. Alhamdulillah usul ini diterima baik oleh Ketua dan Skretaris PMD Kota Dumai, dan dengan semangat yang sama hal ini kami sampaikan kepada Badan Amil Zakat Kota Dumai agar turut ikut mengirimkan relawan untuk tujuan yang mulia ini.

Dengan rahmat Allah swt rombangan relawan Kota Dumai Pada hari senin 5 Oktober 2009 sekitar pukul 15.00 WIB berangkat menuju Sumatera Barat dengan iring-iringan kendaraan yang terdiri dari 4 buah truk pembawa bantuan sebuah mobil Patroli pengawalan dan 6 buah mobil relawan. Sepanjang perjalanan para relawan muballigh selalu berdiskusi tentang dahsyatnya gempa yang terjadi, sehingga menarik dan menggerakkan hati serta menyentuh rasa kemanusiaan ummat Islam dari seluruh Indonesia untuk datang ke Sumatera Barat menyalurkan bantuan mereka, guna meringankan penderitaan korban gempa yang telah banyak kehilangan harta dan nyawa. Gambaran ini semakin nyata ketika rombongan berhenti di daerah Lubuk Bangku, dan melihat berpuluh-puluh truk bantuan terlihat parkir dengan spanduk melekat; bantuan gempa Sumbar melekat pada dinding setiap truk tersebut.

Penulis sangat terkejut ketika disapa oleh seseorang yang baru turun dari kendaraannya dengan nomor plat Jakarta, bahwa mereka telah berjalan selama 2 hari dua malam, untuk mengantarkan bantuan ke daerah gempa. Baik di Lubuk Bangku maupun di sepajang jalan relawan muballigh memperhatikan banyaknya kendaraan luar daerah yang datang baik sebagai relawan ataupun untuk mengantarkan bantuan. Melihat hal ini, penulis benar-benar merasakan dan menyakini kebenaran Hadis Rasulllah saw bahwa Seorang mukin dan mukmin lainnya bagaikan sebuah tubuh yang apabila salah satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh lainnya turut merasakan derita tersebut. Sekitar pukul 5 pagi rombongan memasuki Kota Padang Panjang dan menunaikan sholat Subuh di salah satu masjid. Pada pukul tujuh rombongan memasuki Kab. Padang Pariaman dan langsung kedaerah Sicincin membagikan bantuan. Ketika memasuki daerah tersebuh kami menyaksikan secara dekat betapa kehancuran terjadi di sana-sini sehingga sangat sulit untuk menemukan rumah yang terselamat dari gempa di daerah Sicincin. Pembagian bantuan ini dengan 10 titik pembagian baru berakhir sekitar pukul 23.00 WIB di Kab. Agam.

Relawan Muballigh dan Baz berjalan mendatangi rumah-rumah yang roboh memberikan nasehat-nasehat ringkas seraya memberikan bantuan kain sarung agar dapat mereka pergunakan dalam beribadah. Dari dialog para Muballigh dengan masyarakat dapat disimpulkan bahwa sebagian kecil ada yang melihat fenomena gempa ini sebagai teguran dan pengajaran dari Allah, yang perlu diambil i’tibar, pengajaran dan semua yang terjadi adalah hasil perbuatan dan prilaku manusia, namun pada sisi yang lain ada yang mengembalikannya kepada fenomena alam dengan mengatakan: ”Di Sumbar ko Pak Kami lah biaso jo gampo, tapi ikolah nan paling gadang”.

Relawan Muballigh dan BAZ Kota Dumai merasa sangat sedih dan terhenyuh ketika melihat banyak masjid yang roboh akibat gempa terutama di Kab. Padang Pariaman dan sebagiannya berada dalam kondisi yang kurang terawat. Setelah selesai menyampaikan tausiyah ringkas seorang ibu yang sudah berusia 70 tahun lebih bernama Rugayah mendatangi penulis lalu berkata; ”Bukan pitih nan kami paralu, tapi ceramah agamo nan lah bapuluah tahun indak kami danga”. Relawan Muballigh menyimpulkan bahwa kehadiran muballigh di daerah gempa adalah sebuah kemestian karena yang memberikan bantuan materi dan medis biasanya banyak, namun sedikit sekali yang datang untuk memberikan bantuan rohani dan spiritual. Marilah kita ambil pelajaran dari peristiwa ini, karena sejahil-jahil manusia menurut Imam Ali adalah orang yang tidak bisa mengambil pengajaran dari setiap kejadian yang terjadi di sekelilingnya. Kita Mesti yakin dan percaya bahwa maksiat kecil dan besar adalah mengundang bencana, sikap cuek dan membiarkan kemungkaran merajalela adalah sebuah upaya mempercepat terjadinya bencana, dan kita mesti yakin bahwa Allah tidak akan menghukum suatu kaum jika mereka benar-benar beriman dan bertakwa. Walllohu a’lam.

Sabtu, 26 Februari 2011

JADIKAN HIJRAH MOMENTUM PERUBAHAN

JADIKAN HIJRAH MOMENTUM PERUBAHAN

1 muharram 1430H adalah sebuah golden opportunity atau kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk melakukan refleksi dan evaluasi kritis dalam bentuk otokritik atau melakukan analisa kritis terhadap perjalanan hidup kita di masa lalu dengan segala warnapwarni kehidupan yang ada di dalamnya. Sesungguhnya perjalanan hidup manusia di dunia ini tak obahnya bagaikan arus sungai yang mengalir dengan derasnya dari hulu hingga ke hilir. Jika kita menemukan adanya kekeruhan di hilir sungai tentunya hal itu sangat erat hubungannya dengan apa yang terjadi di hulu berupa tumpukan sampah atau dampak erosi maupun abrasi . Jika kita berkaca kepada petuah dan pepatah orangtua kita di masa lalu yang pernah berkata: Pokok tak akan bergoyang kalau tak ada angin yang berembus, atau jika ada asap tentunya ada api, tentunya kita dapat memahami konsep kausalitas atau hubungan sebab akibat dalam hidup kita. Pribahasa di atas jelas menunjukkan bahwa hubungan sebab akibat dari tingkah laku dan perbuatan kita dalam kehidupan manusia di dunia ini. Apa yang kita lakukan di masa lalu tentunya sangat berhubungan dengan kehidupan kita hari ini. Jika kita banyak melakukan hal-hal baik dan positif di masa lalu tentunya kehidupan kita hari akan penuh dengan berkah kedamaian, ketentraman dan kebahagiaan, namun jika kita pada masa yang lalu lebih banyak melakukan hal-hal buruk, negatif dan destruktif atau merusak tentunya kehidupan kita pada hari ini akan menjadi suram, penuh masalah dan tak luput dirundung malang dengan masa depan yang kabur dan tidak jelas.

Sesungguhnya kehidupan manusia di dunia ini hanya terbatas pada tiga hari saja. Hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Hari kemarin yang telah berlalu, hari ini yang tidak akan kekal bersama kita, dan hari esok yang belum pasti bagaimana nasib dan keadaan kita. Hari kemarin menjadi sejarah, hari ini menjadi kenyataan dan hari esok menjadi harapan. Kita tidak dapat berbuat apa-apa terhadap masa lalu karena telah menjadi bagian dari sejarah dari hidup kita, namun kita dapat berbuat banyak hari ini dengan segala cara dan upaya kita untuk merangkai hari esok yang lebih baik yang menjadi harapan kita semua. Kesalahan masa lalu hendaklah menjadi pengajaran dan sempadan bagi kita dalam menyikapi kenyataan hari ini dan merencanakan hari esok. Setiap manusia pasti pernah bersalah dan berdosa dalam hidupnya baik secara sengaja ataupun tidak sengaja. Semua kesalahan dan dosa tersebut adalah sesuatu yang dapat dianggap lumrah dan wajar bagi manusia, jika setiap kesalahan tersebut disikapi dengan sebuah keinsafan yang mendalam dan penyesalan serta taubat nasuha, sehingga sebuah kesalahan tidak pantas untuk terjadi dua kali atau berulang-ulang dalam kehidupan seorang Mukmin. Sesungguhnya orang yang tidak sanggup mengakui kesalahan dan dosa yang pernah ia lakukan akan sulit untuk dapat melakukan perubahan dan hal-hal yang baik serta benar di dalam hidupnya.

Ken Blanchard, pengarang buku "The One Minute Manager" menyatakan bahwa kita biasanya bersikap keras dalam mempertahankan keyakinan yang lama dan sukar menerima perubahan karena beberapa sebab atau alasan ;
• Pada saat kita berpikir tentang perubahan, kita sering memikirkan hal-hal yang harus dan mesti kita lepaskan demi perubahan tersebut, bukan hal-hal yang akan kita dapat, berupa keuntungan dari upaya perubahan yang akan kita lakukan .
• Setiap orang mempunyai tahap toleransi yang berbeda dalam menerima sebuah peruba serta keadaan, serta latar belakang psikologis seseorang.
• Adanya kecenderungan yang kuat dan tuntutan perasaan yang bergelora dalam jiwa kita, untuk mempertahankan dan kembali kepada keadaan asal, dengan sebuah keyakinan bahwa keadaan dulu lebih baik dari sekarang.

Plato pernah berkata bahwa; "Kemenangan yang utama ialah kemampuan kita untuk menaklukkan atau mengalahkan diri sendiri." Hal ini di dukung oleh Garfield yang berkata, "Di dunia ini semua benda-benda pada hakikatnya tidak pernah berubah, kecuali ada orang yang merubahnya." Perubahan tidak terjadi tanpa ada penggerak atau sebab, dan perubahan yang paling berat dan paling sukar ialah merubah diri dan pribadi kita sendiri.

Melirik kepada hijrah rasulullah saw yang terjadi pada 1430 tahun yang lalu adalah benar-benar menjadi momentum perubahan bagi ummat. Dari kekufuran kepada Islam, dari dosa kepada pahala, dari permusuhan kepada perdamaian, dari kejahilan kepada nur dan ilmu pengetahuan, dari kehidupan individualistik yang sia-sia kepada kehidupan ummatis yang penuh makna. Semua ini bermula dari keinsafan, kesadaran dan kerelaan setiap elemen ummat untuk merubah pola pikir dan pola hidup mereka. Kita mesti yakin dengan keyakinan yang teguh bahwa segalanya di dunia ini yang bernama makhluk pasti berubah dan yang tetap hanyalah perubahan. Jika kita tidak berubah maka kita akan dirubah oleh zaman, lingkungan dan keadaan. Kita mestilah tampil sebagai arsitek sebuah perubahan bukan hanya berpuas hati menjadi bagian dari sebuah perubahan. Kita mesti mau belajar untuk berubah. Jika kita tidak belajar kita tidak akan berubah, dan jika kita tak berubah berarti kita telah mati pada kehidupan ini sebelum ajal menjemput kita.

MERAIH BONUS ANAK SHOLEH

MERAIH BONUS ANAK SHOLEH
Oleh
LUKMAN SYARIF
Ketua Forum Kerukunan Ummat Beragama Kota Dumai

Kekecewaan dan keresahan jiwa tentunya akan menguasai diri kita, ketika kita memutuskan untuk berbisnis atau berdagang sebagai jalan dan cara kita untuk memperoleh nafkah dan kehidupan yang lebih baik. Segala daya dan upaya kita berupa moril dan materil serta waktu kita gunakan, namun ternyata semuanya berakhir dengan kegagagalan dan kerugian yang membawa penyesalan. Hal yang sama dan serupa juga akan kita alami ketika kita memutuskan untuk bertani. Setelah mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli bibit yang baik dan unggul dan mahal, ternyata hanya berakhir dengan kematian bibit tersebut pada minggu ketiga setelah ia tumbuh subur selama beberapa minggu. Kesedihan, putus asa dan hilang semangat hidup bisa menjadi hal-hal yang membayangi kehidupan kita, sehingga hidup terasa kurang bermakna.

Kiasan di atas adalah gambaran nyata dari sebuah kegagalan memperoleh anak sholeh dalam hidup kita. Banyak harta, materi, jiwa, waktu dan perasaan yang kita curahkan kepada anak kita namun semuanya berakhir dengan kegagalan. Bak kata pepatah; Padi ditanam yang tumbuh adalah lalang, kebaikan berbuah kedurhakaan dan penentangan yang membuat hati orangtua remuk redam karena perjuangan panjang berbuah sia-sia. Sebagai Muslim yang bertakwa tentunya kita siap untuk gagal dan kalah bahkan untuk menjadi pecundang sekalipun, dalam perjuangan pribadi kita, namun kita sama sekali, tidak akan pernah siap dan rela untuk menghadapi kegagalan anak-anak kita.

Sungguh sangat ironi, jika orangtua kita yang terdahulu, dengan segala kekurangan mereka, terkadang hidup dalam kemiskinan yang berkepanjangan dan buta huruf serta hidup di pinggiran desa, ternyata berhasil melahirkan kita sebagai generasi yang lebih baik dari pada mereka, namun kita pada sisi yang lain dengan segala kelebihan yang ada, pendidikan yang lebih tinggi, materi yang lebih memadai belum tentu berhasil melahirkan generasi yang lebih baik dari kita.

Mempunyai anak sholeh adalah sebuah kesuksesan yang besar dan luar biasa, karena kita memperoleh kesuksesan dunia dan akhirat secara bersamaan. Seratus kesuksesan yang kita peroleh tidak akan pernah sebanding nilainya dengan keberhasilan anak-anka kita yang sholeh dan sholehah. Dengan memiliki anak sholeh dan sholeh akan menjadikan kita dapat hidup lebih lama dengan usia yang sangat panjang bahkah ratusan tahun, karena kita telah mewariskan semua nilai-nilai murni dan moral yang utama yang kita miliki dan amalkan kepada anak-anak kita, untuk mereka wariskan kepada anak, cucu dan cicit kita, karena kematian hanya memisahkan jasad kita dari ruh, tetapi segala nasehat, bimbingan dan tunjuk ajar serta semua contoh teladan yan kita wariskan terus hidup dan tumbuh subur pada anak cucu kita. Mendapat anak sholeh bagaikan beranak lalang karena sang anak lebih tajam dan lebih melawan serta menantang dari induknya. Mempunyai anak durhaka, lemah, dengan masa depan yang suram tidak obahnya bagaikan beranak pisang, induknya gemuk anaknya kurus kurang makan serta berbuah kecil dan sedikit. Alangkah bahagianya jika di akhir usia kita, kita dirahmati dengan keluarga yang bahagia anak-anak yang sholeh dan sholehah yang taat kepada Allah dan berbakti kepada kedua orangtua. Rasa lelah terbayar dengan prestasi dan keberhasilan mereka serta keluhuran budi pekerti yang mereka amalkan. Allah berfirman : Hendaklah Orang-orang yang beriman merasa takut untuk meninggalkan generasi yang lemah selepas mereka ( An Nisaa Ayat 4 ). Pada surah Al-Anfaal Allah berfirman: Ketahuilah bahwa sesungguhnya harta dan anak-anak kamu adalah ujian keimanan yang terbesar bagi kamu, Dan sesungguhnya Allah menyediankan balasan pahala yang besar bagi mereka yang berhasil. Walloohu A’lam.

Kamis, 03 Juli 2008

DOA UMMAT NYATA MUSTAJAB

DUMAI - Rencana masyarakat Dumai melakukan sholat Istiqasah (minta hujan), Selasa (26/2) di lapangan eks kantor walikota Jalan Subrantas akhirnya dibatalkan menyusul turunnya hujan pada Senin malam (25/2). Sholat Istiqasah kemudian diganti dengan bersujud syukur.
Sejak Selasa pagi, ribuan masyarakat sudah hadir untuk mengikuti sholat Istiqasah, mulai dari pelajar yang ada di kota Dumai, ratusan Pegawai Negri Sipil (PNS) dan Walikota Dumai Drs Zulkifli As, Wakil Walikota dr Sunaryo, Kepala Departemen Agama Drs H Zulkifli dan sejumlah pejabat satker di lingkungan Pemko Dumai turut hadi di lokasi acara. "Kita tak melakukan sholat minta hujan, hal ini disebabkan Senin malam Kota Dumai sudah diguyur hujan. Jadi diganti dengan sujud syukur," kata Kabag Protokoler, Kharil Adli di sela-sela acara tersebut.
Sebelum sujud syukur dilakukan, Staf Ahli Pemko Dumai, Lukman Syarif, MA dalam tausiyahnya mengatakan, setiap makhluk hidup di atas dunia berzikir memuji kebesaran-Nya. Namun karena
keserakahan dan ambisi manusia, membuat makhluk hidup seperti pepohonan, dibabat habis tanpa memperhitungkan segala aspek yang ada. "Secara langsung kita telah membunuh hak makhluk Tuhan tersebut dalam memuji-Nya. Dimana letak naluri kita sebagai khalifah di muka bumi ini," ujar Lukman.
Untuk itu, katanya, setiap umat manusia harus berubah ke arah yang lebih baik. Karena tanpa perubahan, setiap kemajuan yang akan diperoleh tak akan didapat. "Perubahan itu harus sesuai dengan garis-garis yang sudah ditentukan-Nya. Marilah kita jaga lingkungan kita ke depannya. Karena setiap langkah kita selalu dilihat Allah SWT," katanya.
Setelah melakukan tausiyah, Lukman Syarif menjadi imam dalam ibadah sujud syukur tersebut. Semua umat Muslim yang berada di sana turut sujud, tak terkecuali pejabat atau tidak. Karena semua manusia di sisi-Nya sama. *

Senin, 16 Juni 2008


NARKOBA: Musuh Kelas Dua, Bahaya Kelas Satu

Oleh

Lukman Syarif, MA

Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba dalam perkembangannya telah menjadi ancaman global yang melampaui batas negara, sehingga tak satupun negara di dunia hari ini yang berani membuat klaim bahwa negaranya bebas dari ancaman narkoba. Ancaman bahaya narkoba menempati urutan kedua setelah masalah terorisme internasional. Hal ini telah menjadikan masalah Narkoba dan terorisme sebagai musuh bersama dari negara-negara di dunia yang harus diperangi secara bersama-sama pula, dengan pendekatan yang lebih konfrehensif dan akurat.

Secara kasat mata kita dapat melihat bahwa di negara kita ini, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba telah menunjukkan adanya kecenderungan yang terus meningkat, merambah keseluruh sisi kehidupan masyarakat. Semula dalam masalah ini, banyak pihak menganggap Indonesia hanya sebagai tempat singgah (transit) semata, dalam mata rantai perdagangan dan peredaran gelap narkoba yang sangat terorganisir, untuk dijual kenegara lain. Namun dalam perkembangannya, ternyata Indonesia telah menjadi pasar utama bagi para bandar narkoba kelas internasional, yang dijalankan oleh orang-orang asing dan kaki tangannya secara sistematis dan terorganisir. Bahkan dalam perkembanganya kemudian, Indonesia telah menjadi tempat untuk memproduksi narkoba secara gelap dengan jumlah dan kapasitas yang sangat fantastis sekali.

Kita mesti menyadari bahwa, ancaman bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba telah berkembang sangat pesat dan telah mengguncang kehidupan keluarga, masyarakat, dunia pendidikan kita, dunia hiburan, bahkan kancah politik kita dalam berbangsa, dan bernegara. Dengan demikian, bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, secara nasional sudah sangat memprihatinkan dan membahayakan. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahaya narkoba telah menjadi bahaya nasional yang telah mengancam dan mengganggu ketahanan nasional, bahkan menghilangkan jati diri kita sebagai bangsa yang bermartabat dan berdaulat. Dengan demikian, kepentingan nasional kita, yaitu mewujudkan bangsa Indonesia yang merdeka, bebas, dan sejahtera benar-benar berada pada posisi yang kabur dan terancam.

Masalah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba adalah tanggung jawab mandatori kita bersama untuk mengupayakan pencegahan dan pemberantasannya, karena diri kita, keluarga kita, masyarakat kita dan bangsa kita semuanya berada pada posisi resiko tinggi terhadap bahaya tersebut. Narkoba tidak hanya ada di kota-kota, tetapi ia telah menyusup dan merambah sampai ke desa-desa terpencil seluruh Indonesia. Dalam upaya memaksimalkan program "Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN)" sehingga mencapai hasil yang maksimum, maka peran serta masyarakat secara aktif adalah sangat diperlukan dan tidak menyerahkan secara bulat dan total kepada pemerintah semata. Segenap unsur organisasi masyarakat, termasuk, dai atau pendakwah, rohaniawan, tokoh masyarakat dan pendidik untuk melakukan suatu upaya sinergis yang komprehensif multidimensional untuk menyelesaikan hal tersebut. Upaya tersebut perlu dijalankan secara simultan melalui serangkaian kegiatan berbasis masyarakat, yang bersifat aplikatif dan akurat, dan bukan pendekatan teoritis semata.

Agenda Asing untuk menjadi Indonesia sebagai pasar utama mereka, dan sekaligus menjadi sebuah grand setting untuk menghancurkan bangsa kita, dapat dilihat dengan jelas melalui fakta-fakta sebagai berikut :

a. Dalam kaitannya dengan tindak pidana narkoba, telah divonis dengan hukuman mati tetapi belum dieksekusi sebanyak 7 orang WNI dan 10 orang asing yang terdiri dari 5 orang warga negara Nepal, 2 orang warganegara Nigeria, dan masing-masing 1 orang warganegara Angola, Zimbabwe, dan Pakistan.

b. Dari data BNN terungkap bahwa selama tahun 2001/2002, warganegara asing yang terlibat dalam tindakan pidana narkoba di Jakarta, Bali, Lombok, Bitung, Batam, dan Sabang adalah sebanyak 52 orang. Dari jumlah tersebut, 7 (tujuh) orang diantaranya ditangkap di Bandara Soekarno Hatta dalam upaya untuk meloloskan heroin masuk ke Indonesia.

c. Sedangkan, WNI yang melakukan tindak pidana narkoba di luar negeri dari tahun 1999-2001, menurut data BNN, adalah sebanyak 28 orang, dimana 25 orang diantaranya ditangkap karena kedapatan membawa sejumlah besar heroin atau cocain dengan tujuan Jakarta dari Peru, Chili, Equador, Argentina, Pakistan, dan Malaysia.

d. Selama tahun 2002, Demokrat Jenderal Imigrasi telah mendeportasi sebanyak 104 orang warga negara asal benua Afrika yang sebagian besar kedapatan overstay dan menyalah-gunakan izin tinggal serta ditengarai terlibat kasus narkoba. Sedangkan, dari Kantor Imigrasi Jakarta Pusat, telah dideportasi sebanyak 30 orang asing dari berbagai kebangsaan (10 orang diantaranya warga negara Kamerun) yang telah selesai menjalani hukuman di LP Salemba.

Dari fakta tersebut dapat diidentifikasi secara meyakinkan bahwa kemungkinan kewarganegaraan orang asing pengedar narkoba serta titik-titik yang dijadikan tempat masuk peredaran narkoba dan "prekursor" dari luar negeri ke Indonesia yang dilakukan (dibawa) oleh WNI dan WNA melalui TPI di bandar udara, pelabuhan laut, dan perbatasan darat yang merupakan pintu gerbang negara kita untuk wisatawan mancanegara. Apakah nasib bangsa kita akan kita biarkan hancur di tangan agen-agen asing yang secara sistematis telah mengubur masa depan anak bangsa kita sebelum ianya tumbuh dan berkembang? Kita mesti menyadari bahwa narkoba adalah; one way entry, no exit. Sekali terperangkap dunia hancur dan kehidupan menjadi sebuah perjalanan penuh derita yang takkan pernah berakhir.


GENERERASI MUDA GENERASI LALANG

Oleh

Lukman Syarif, MA

Ketika berusia belasan tahun, penulis pernah diajak bicara sang Ayah (almarhum ) dalam sebuah perjalanan ke sebuah kebun di Bagan Besar atau tepatnya di belakang Kantor Walikota sekarang. Ayah saya mengajukan sebuah pertanyaan yang agak berbeda bagi saya, dari beberapa pertanyaan yang pernah diberikansebelumnya. Apakah perbedaan yang paling nyata dan ketara antara induk lalang dan anak lalang yang biasanya tumbuh di beberapa tempat secara seporadis? Saya secara sepontan menjawab dengan lurus bahwa induk lalang lebih besar dan lebih tinggi dari anaknya. Namun Ayah saya ternyata belum puas dengan jawaban yang saya berikan. Ayah saya dengan kearifannya menyuruh saya membuka sandal yang saya pakai, lalu meminta saya untu menginjak induk lalang dan seterusnya diikuti dengan anak lalang. Setelah selesai mengerjakannya Ayah saya lalu bertanya lagi; Apakah perbedaan antara keduanya? Dengan agak berhati-hati penulis menjawab, bahwa perbedaan yang paling nyata antara keduanya adalah; induk lalang ketika dipijak mudah patah tanpa perlawanan, dan anak lalang dengan bentuknya yang runcing lebih melawan dan lebih mampu untuk bertahan. Ayah saya mengatakan benar dan bagus, namun intinya adalah anak harus beruhasa dengan sedaya upaya untuk menjadi lebih baik dari orangtuanya, tidak sekedar sama apalagi lebih buruk dan lemah dari mereka.

Dialog tersebut sangat berkesan dan memberikan pengaruh besar kepada penulis sampai hari ini, serta menjadi inspirasi dan motivasi kuat bagi penulis untuk lebih siap dan tekun menghadapi tantangan hari esok dan masa depan yang lebih menantang. Sesungguhnya perjuangan dan pengorbanan orangtua yang tak kenal lelah, bermandi keringat, dalam hujan dan panas, untuk memenuhi tuntutan kehidupan yang sangat berat dan di luar kemampuan mereka, namun tetap mereka laksanakan dan pikul, untuk mewujudkan sebuah keinginan dan harapan besar yang mereka letakkan pada anak-anak mereka sebagai generasi harapan. Tembok kemiskinan yang berdiri kukuh di hadapan orangtua, dan jurang keterbatasan hidup yang selalu mengganjal langkah mereka tak mampu merubah keyakinan mereka yang terpahat indah di dalam dada bahwa mereka adalah para pahlawan tangguh yang berpantang surut dari medan laga, rela mengadai nyawa agar sang anak tumbuh dan membesar dengan jaya.

Sejuta harapan diletakkan oleh orangtua pada anak-anak mereka yang menjadi generasi penerus, generasi lalang, dan generasi harapan, untuk mencapai cita-cita dan keinginan yang mungkin tak mampu mereka capai dan raih dalam hidup mereka. Cita-cita pribadi, cita-cita keluarga, masyarakat dan bangsa yang secara nyata dan natural mereka amanahkan kepada anak-anak mereka. Dalam perjuangan ini terkadang orangtua kita harus terpinggir karena kemiskinan, terhina karena ketidakmampuan dan tersisih karena ketidakberdayaan. Banyak hal-hal yang mustahil telah dilakukan oleh Ayah dan Ibu kita dalam memenuhi keperluan kita karena sangat jauh dari kemampuan finansial yang mereka miliki. Ayah dan ibu kita tak pernah mengungkapkan kata penat dan lelah apa lagi untuk meminta upah kepada kita atas setiap perjuangan mereka.

Generasi lalang pantas menyadari bahwa setiap rupiah yang mereka terima adalah hasil dari setiap tetesan keringat orangtua yang rela membanting tulang siang dan malam. Berpanas-panas di siang hari dengan hujan keringat membasahi tubuh dalam mencari rezeki yang halal dan bermanfaat untuk sebuah cita-cita murni dan pengorbanan yang tiada henti. Sesungguhnya untuk membesarkan seorang anak sampai usia 5 tahun saja diperlukan biaya puluhan juta rupiah bahkan ratusan juta rupiah, guna memenuhi segala keperluan balita, bagaimana pula hal nya jika sepuluh atau dua puluh tahun sekolah dan kulliah mencari pekerjaan hingga mendirikan rumah tangga?

Generasi lalang tidak akan tega untuk bermain-main dengan keseriusan orangtua, atau bersenang-senang di bawah penderitaan mereka. Setiap anak mesti menyadari bahwa mereka sangat berutang budi kepada kedua orangtuanya. Generasi lalang tentunya akan berfikir bahwa, hutang tersebut sangat tidak wajar untuk dibayar dengan sikap cuek, hura-hura, dan hidup dengan liar tak peduli norma etika, serta pembangkangan yang berterusan ataupun sifat ego dan nekad tanpa kendali. Generasi lalang tentunya menyadari bahwa, setiap makanan yang mereka makan adalah jelmaan dari tetesan keringat yang membasahi tubuh orangtua yang tak terhingga jumlahnya. Jika mereka memakai pakaian yang baik, cantik dan mahal maka pakaian itu adalah tetesan keringat orangtua yang telah dijual untuk ditukar ganti dengan pakaian dan aksesoris yang dipakai. Tentunya sangat tidak pantas anak yang dibesarkan dengan penuh cinta kasih untuk menyiksa orangtuanya dengan kegagalan dan keruntuhan moral, apalagi untuk mengubur seluruh harapan dan cita-cita mereka dengan menjadi pencandu narkoba ataupun terlibat dalam prilaku seks bebas yang berakibat HIV/AIDS.

Menjadi pohon yang tumbuh dan membesar di atas bukit adalah nasehat sang ayah yang terus mengiang di telinga penulis hingga hari. Pohon yang tumbuh di atas bukit harus berhadapan dan terlatih dengan kuatnya hembusan angin dari sejak dini, sehingga ia mampu berhadapan dengannya, terutama ketika pohon tersebut tumbuh dan membesar. Pohon yang tumbuh di atas bukit jarang yang tumbang karena kuatnya terpaan angin, namun pohon yang tumbuh di lembah sering tumbang bila berhadapan dengan angin yang kuat, terutama ketika ketinggian pohon tersebut melebihi bukit di sekelilingnya. Generasi lalang adalah generasi yang tahan uji dan siap menghadapi tantangan. Generasi lalang adalah generasi yang lahir dan terdidik untuk menghadapi segala tantangan yang wujud di zamannya. Tak pernah lari dari masalah karena lari dari masalah bukanlah penyelesaian ( escapism is not solution ). Lari dari masalah adalah lari dari kenyataan, dan lari dari kenyataan adalah lari dari kehidupan. Generasi lalang dapat memahami hakikat kehidupan dunia yang tak pernah luput dari masalah dan tantangan, bak kata pepatah; bumi yang mana yang tak ditimpa hujan.

Generasi lalang melihat dan meyakini dengan sepenuhnya bahwa Allah swt menciptakan segalanya dengan berbagai jenis dan ragam, sehingga zaman pun selalu beragam. Ada malam, dan ada siang. Ada musim panas, dan ada musim dingin. Ada panas, dan ada dingin serta ada mendung dan ada berawan. Bumi kita juga selalu beragam. Ada pegunungan, ada lembah. Ada anak bukit, ada dataran rendah dan Ada sungai, serta bendungan. Kehidupan manusia juga beragam. Ada sedih, ada gembira. Ada ujian, ada karunia. Ada kelahiran ada pula kematian. Ada kaya, ada miskin. Ada damai, ada perang. Ada kesusahan ada pula kemudahan. Kita sering nampak derita hari ini, tapi kita jarang ingat kebahagiaan untuk esok hari. Kita mesti belajar untuk menghargai apa yg kita miliki hari ini, kerana kita takkan dapat mencapai penghargaan hari esoknya jika semuanya telah tiada. Semua hal tersebut adalah romantika kehidupan yang mesti dilalui untuk mencapai hari esok yang baik dan mengukir kesuksesan yang lebih berarati. Menjadi lebih baik dari orangtua dalam segala hal adalah tujuan hidup generasi lalang, karena anak lalang pasti lebih baik dan lebih kuat dari induknya. Wallahu’A’lam.

.

Rabu, 14 Mei 2008

ZIKIR DAN CINTA SEHATI DAN SENYAWA


Oleh

Lukman Syarif, MA


Sesungguhnya seluruh kekuatan yang ada didunia ini, bersumber dari kekuasaan Allah SWT yang maha dahsyat dan tidak terbatas. Orang yang kuat adalah orang mendapat anugerah kekuatan Allah sebagai hasil dan natijah dari kedekatan seseorang kepada Allah melalui zikir dan munajat yang mewarnai kehidupan seorang hamba dalam bentuk Taqorrub dan ubudiyah yang nyata.

Setiap manusia mempunyai mata batin yang Allah ciptakan bersih dan suci tanpa noda sedikitpun, sehingga kita mampu melihat kebenaran dan hakikat diri, alam dan seluruh ciptaannya, yang pada akhirnya membuat kita dapat merasakan kehadiran dan kebersamaan dengan Allah swt di mana saja dan kapan saja dalam semua keadaan, baik suka maupun duka.

Mata Batin atau dalam Istilah Tasawuf disebut Al-Bathinah, merupakan Indera keenam yang Allah berikan kepada setiap manusia, Mata Batin ibarat kaca atau cermin yang dapat dipergunakan untuk melihat sesuatu dengan lebih jelas atau ibarat pisau tumpul yang dapat diasah sampai tajam sehingga dapat memotong sesuatu benda dengan mudah.


Ketika kita masih kecil mata batin kita masih bersih sehingga dapat melihat hal-hal yang gaib dengan jelas dan mudah menangkap Ilmu Pengetahuan dengan mudah, namun tetapi setelah kita tumbuh besar dan beranjak dewasa mata batin kita mulai ternoda oleh sifat-sifat buruk dan keduniawian sehingga tidak dapat melihat lagi hal-hal yang gaib lag. Sesungguhnya tempat bagi mata hati adalah Qalbu ( hati nurani ) yang selalu berubah setiap saat sesuai dengan perbuatan kita sehari-hari. Dengan zikir yang ikhlas dan berterusan hati kita akan tetap bersih dan mata batn kita akan tetap menyala. Hal dengan jelas dinyatakan oleh Rasullah saw di dalam hadisnya:

Sesungguhnya Hati manusia itu ibarat sehelai kain putih yang apabila manusia itu berbuat dosa maka tercorenglah / ternodailah kain putih tersebut dengan satu titik noda kemudian jika sering berbuat dosa lambat-laun sehelai kain putih itu berubah menjadi kotor / hitam”

Kita mestilah menyadari bahwa Zikir memiliki pengaruh yang kuat terhadap kecemerlangan cahaya batin kita. Hati yang selalu terisi dengan Cahaya Zikir akan memancarkan Nur Allah dan keberadaannya akan mempengaruhi perilaku yang serba positif. Segala perbuatan kita baik berupa niat, kata-kata ataupun perbuatan semuanya merupakan ilham dan petunjuk dari Allah swt, sehingga kita dapat melangkah dalam hidup hidup dengan penuh keyakinan tanpa sedikitpun terbersit keraguan akan kebenaran Allah dalam kehidupan kita sehari-har.


Kebiasaan melakukan zikir dengan baik dan benar akan menimbulkan ketentraman hati dan menumbuhkan sifat ikhlas. Hikmah zikir amatlah besar bagi orang yang ingin membangkitkan kekuatan indera keenamnya ( batin ). Ditinjau dari sisi ibadah, zikir merupakan latihan menuju Ikhlasnya hati dan Istiqomah dalam berkomunikasi dengan al-Khaliq Allah swt.


Ditinjau dari sisi kekuatan batin, zikir merupakan metode membentuk dan memperkuat Niat Hati, sehingga dengan izin Allah SWT, apa yang terdapat dalam hati, itu pula yang akan dikabulkan oleh Allah SWT. Dengan kata lain, zikir memiliki beberapa manfaat, diantaranya : Membentuk, Memperkuat Kehendak atau azam, Mempertajam Batin, sekaligus memiliki nilai Ibadah yang tinggi .


Dengan zikir berarti membersihkan dinding kaca batin, ibarat sebuah semprong lampu yang tertutup oleh kaca yang kotor, meyebabkan cahaya-sinarnya tidak muncul keluar secara maksimal. Melalui zikir, berarti membersihkan kotoran yang melekat sehingga kaca kembali menjadi bersih dan cahaya-sinarnya bisa memancar keluar menerangi diri dan lingkungan. Dengan zikir kita akan dapat memahami fenomena alam, prilaku hewan, deburan ombak dan hembusan yang juga merupakan tasbih dalam mengingat dan mengagungkan Allah swt. Mata batin dapat menembus kegelapan malam dan dapat mendengar kebenaran di tengah riuhnya nyanyian alam, yang mengantarkan kita kepada ma’rifatullah.