Selasa, 28 Agustus 2012

KETUA MUI DUMAI SERUKAN UMMAT BELA AGAMA

KETUA MUI DUMAI SERUKAN UMMAT BELA AGAMA
Islam adalah agama dan jalan hidup serta kebenaran hakiki yang bersifat absolut, yang menjadi warisan termahal yang kita warisi dari Nabi kita Muhammad saw. Islam menjadikan keberadaan manusia di bumi ini, menjadi berbeda dengan makhluk lainnya yang terkadang hanya hidup untuk misi-misi kecil dengan memenuhi tuntutan perut dan kemaluan belaka. Seorang Muslim mestilah berguna untuk ummat dan agamanya agar ia layak dan mengaku sebagai seseorang yang beriman dan beragama. Keimanan menuntut pembuktian nyata berupa amal sholeh yang berguna untuk, diri, keluarga, ummat dan agama. Jika seorang Muslim tak berguna untuk ummat dan agamanya maka ketiadaannya adalah lebih baik dari keberadaannya. Hidup dalam kacamata agama adalah akidah dan perjuangan, maka keimanan yang bersemayan di dada seorang Muslim akan menjadikan dirinya menjadi manusia yang kreatif, inovatif dan produktif dalam berbuat dan membela agamanya. Islam adalah agama kebenaran, yang menuntut perjuangan dan pengorbanan dari pemeluknya agar kebenaran Islam terjaga, terpelihara, dan selalu dibela serta menjadi agenda terpenting dalam hidup seorang hamba yang benar-benar menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya. Sesungguhnya kebenaran tanpa dukungan dan pembelaan akan terpinggir, terlupakan dan seakan-akan tak pernah ada. Demikian disampaikan oleh Ketua MUI Dumai pada khutbah Idul Fitri di Masjid Agung Al-Falah Kabupaten Pontianak Propinsi Kalimantan Barat, atas undangan pemerintah daerah melalui pengurus yayasan Al-Falah.
Ketua MUI Dumai di hadapan ribuan jamaah solat id lebih lanjut mengingatkan ummat Islam bahwa keislaman seorang Muslim diukur dan dinilai dengan keberpihakan dan pembelaannya terhadap agama. Sesungguhnya pertanyaan malaikat di dalam kubur tidak akan menyentuh suku, warna kulit, KTP, Paspor ataupun warga Negara, tetapi apa yang sudah ia perbuat untuk ummat dan agamanya dengan segala nikmat harta dan kuasa serta kesehatan yang telah Allah berikan kepadanya sebagai amanah dan ujian. Adalah sangat naif dan memalukan bila seorang Muslim yang kaya harta tapi miskin sedekah dan infak dalam membela agama, Berkuasa tapi miskin keberpihakan kepada ummat dan agama. Sesungguhnya semua nikmat yang diberikan bila tak dapat menambah amal dan kebaikan pada amal seorang hamba, maka ia tak lebih dari fitnah dan laknat yang datang membawa musibah dan keburukan dunia akhirat. Siapa yang tidak berupaya dan berusaha memuliakan agamanya dengan memuliakan ummat dan ulama dengan segala daya dan upaya, maka tiadalah yang bertambah pada dirinya dengan pertambahan ilmu, harta, tahta dan nama kecuali pertambahan kehinaan, kerugian, kesengsaraan batin dan kesesatan hidup yang manusia sering tak menyadarinya, sehingga ajal menjemputnya.
Drs. Ria Norsan, Bupati Kabupaten Pontianak secara khusus mengundang Ketua MUI ke rumah dinas Bupati untuk bersilaturrahmi, yang diikuti dengan pertemuan khusus pada malam harinya untuk bertukar pikiran dan mendapatkan saran serta  nasehat dari Ketua MUI Dumai tentang upaya dan program pembangunan dan pengembangan masyarakat yang sedang dilaksanakan Pemerintah Kab.Pontinak dari perspektif Islam. Lebih lanjut Bupati Kabupaten Pontianak meminta Ketua MUI Dumai untuk terus dapat membantu perkembangan dakwah Islamiyah dan bersedia untuk membantu mensukseskan perayaan hari-hari besar Islam sebagai bagian dari syia’ar Islam.

KETUA MUI DUMAI SERUKAN UMMAT BELA AGAMA

KETUA MUI DUMAI SERUKAN UMMAT BELA AGAMA
Islam adalah agama dan jalan hidup serta kebenaran hakiki yang bersifat absolut, yang menjadi warisan termahal yang kita warisi dari Nabi kita Muhammad saw. Islam menjadikan keberadaan manusia di bumi ini, menjadi berbeda dengan makhluk lainnya yang terkadang hanya hidup untuk misi-misi kecil dengan memenuhi tuntutan perut dan kemaluan belaka. Seorang Muslim mestilah berguna untuk ummat dan agamanya agar ia layak dan mengaku sebagai seseorang yang beriman dan beragama. Keimanan menuntut pembuktian nyata berupa amal sholeh yang berguna untuk, diri, keluarga, ummat dan agama. Jika seorang Muslim tak berguna untuk ummat dan agamanya maka ketiadaannya adalah lebih baik dari keberadaannya. Hidup dalam kacamata agama adalah akidah dan perjuangan, maka keimanan yang bersemayan di dada seorang Muslim akan menjadikan dirinya menjadi manusia yang kreatif, inovatif dan produktif dalam berbuat dan membela agamanya. Islam adalah agama kebenaran, yang menuntut perjuangan dan pengorbanan dari pemeluknya agar kebenaran Islam terjaga, terpelihara, dan selalu dibela serta menjadi agenda terpenting dalam hidup seorang hamba yang benar-benar menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya. Sesungguhnya kebenaran tanpa dukungan dan pembelaan akan terpinggir, terlupakan dan seakan-akan tak pernah ada. Demikian disampaikan oleh Ketua MUI Dumai pada khutbah Idul Fitri di Masjid Agung Al-Falah Kabupaten Pontianak Propinsi Kalimantan Barat, atas undangan pemerintah daerah melalui pengurus yayasan Al-Falah.
Ketua MUI Dumai di hadapan ribuan jamaah solat id lebih lanjut mengingatkan ummat Islam bahwa keislaman seorang Muslim diukur dan dinilai dengan keberpihakan dan pembelaannya terhadap agama. Sesungguhnya pertanyaan malaikat di dalam kubur tidak akan menyentuh suku, warna kulit, KTP, Paspor ataupun warga Negara, tetapi apa yang sudah ia perbuat untuk ummat dan agamanya dengan segala nikmat harta dan kuasa serta kesehatan yang telah Allah berikan kepadanya sebagai amanah dan ujian. Adalah sangat naif dan memalukan bila seorang Muslim yang kaya harta tapi miskin sedekah dan infak dalam membela agama, Berkuasa tapi miskin keberpihakan kepada ummat dan agama. Sesungguhnya semua nikmat yang diberikan bila tak dapat menambah amal dan kebaikan pada amal seorang hamba, maka ia tak lebih dari fitnah dan laknat yang datang membawa musibah dan keburukan dunia akhirat. Siapa yang tidak berupaya dan berusaha memuliakan agamanya dengan memuliakan ummat dan ulama dengan segala daya dan upaya, maka tiadalah yang bertambah pada dirinya dengan pertambahan ilmu, harta, tahta dan nama kecuali pertambahan kehinaan, kerugian, kesengsaraan batin dan kesesatan hidup yang manusia sering tak menyadarinya, sehingga ajal menjemputnya.
Drs. Ria Norsan, Bupati Kabupaten Pontianak secara khusus mengundang Ketua MUI ke rumah dinas Bupati untuk bersilaturrahmi, yang diikuti dengan pertemuan khusus pada malam harinya untuk bertukar pikiran dan mendapatkan saran serta  nasehat dari Ketua MUI Dumai tentang upaya dan program pembangunan dan pengembangan masyarakat yang sedang dilaksanakan Pemerintah Kab.Pontinak dari perspektif Islam. Lebih lanjut Bupati Kabupaten Pontianak meminta Ketua MUI Dumai untuk terus dapat membantu perkembangan dakwah Islamiyah dan bersedia untuk membantu mensukseskan perayaan hari-hari besar Islam sebagai bagian dari syia’ar Islam.

Rabu, 15 Agustus 2012


KETUA MUI DUMAI DAKWAH DI PESISIR KALBAR

Dakwah Islamiyah adalah sebuah kewajiban ilahi yang melekat pada diri seorang Muslim tanpa membedakan status socio-ekonomi yang mereka miliki, terutama pada diri setiap Muslim yang mendapat amanah, ilmu, harta dan jabatan dari Allah swt. Setiap Muslim pasti akan ditanya di dalam kuburnya tentang apa yang  telah ia lalukan dan bagaimanakah keberpihakannya terhadap ummat dan agama. Sesungguhnya sikap apologetik yang dan cenderung menghindar dengan mengatakan bahwa dakwah Islamiyah adalah tanggungjawab khusus para tokoh agama adalah sikap yang salah dan sangat kontradiktif dengan fakta sejarah dakwah Islamiyah baik di jazirah Arab maupun gugusan nusantara.

Dengan segala keterbatasan ilmu, materi dan wawasan serta rasa tanggungjawab dakwa kepada Allah swt, Ketua MUI Dumai melaksanakan dakwah secara pribadi di Desa Sengkubang Kab. Pontianak yang merupakan daaerah pesisir Kalimantan Barat. Selama Sepuluh Malam terakhir Ketua MUI Dumai coba Mengaplikasikan beberapa kegiatan dakwah yang biasa dilalukan di Dumai, seperti Ihya ramadahan antara insya dan tarawih, kulliyah Subuh, diskusi dan tadarus al-qur’an. Kegiatan ini masih dianggap baru di daerah ini karena biasanya tarawih langsung dilaksanakan setelah sholat Isya tanpa adanya tausiyah. Sebuah fakta yang patut kita sadari bahwa daerah pedesaan sering kurang tesentuh oleh dakwah Islamiyah karena jarak tempuh dan sulitnya transportasi, serta migrasi sebagian tokoh agama ke kawasan perkotaan. Masyarakat setempat memberikan sambutan yang baik dan bersahabat, terutama dari pengurus masjid Aminudin Sengkubang. Semangat menyumbang untuk agama dan kegiatan dakwah mulai menggeliat dengan terus meningkatnya jumlah infak pada setiap kegiatan dakwah yang dilaksanakan. Pada sholat idil fitri 1 syawal 1433H Ketua MUI Kota Dumai Insya Allah diberikan amanah untuk menjadi khatib di Majid Nurul falah, Masjid Agung Kab. Pontianak, Kalimantan Barat. Belajar dari kegiatan ini Ketua MUI Dumai berharap pada masa mendatang, dengan bantuan dana dari Pemerintah Kota Dumai dan Mobil Operasioan MUI sebagaimana kabupaten/ kota lainnya, insya Allah kegiatan bina ummat untuk kawasan pinggir Kota Dumai dapat dilaksanakan dengan baik. MUI Kota Dumai yakin bahwa tanpa kegiatan dakwah Islamiyah yang baik dan terpola, masyarakat kota Dumai akan kehilangan roh dalam proses pembangunan yang dijalankan, bahkan tidak mustahil akan berhadapan dengan fenomena lost generation ( generasi yang hilang ) karena miskin nilai, norma dan etika serta tujuan hidup sebagai seorang Muslim, yang tercipta sebagai khalifah di muka bumi.
*** Lukman Syarif, MA. Ketua MUI Kota Dumai  

Minggu, 12 Agustus 2012


FAQIR MISKIN DAN PEMALAS TAK LAYAK TERIMA ZAKAT


Agama Islam adalah  agama keadilan dan bersifat rohmatan lil’alamin atau rahmat untuk semua makhluk di muka bumi. Alasan fundamental dari kewajiban zakat bagi seorang Muslim atau yang biasa kita sebut dengan Maqoosid As-Syari’ah adalah sebuah bentuk prevensi ekonomi yangberkeadilan dengan melarang harta dari beredar atau bersirkulasi hanya pada satu kelompok masyarakat atau yang kaya dan berpunya semata, sehingga masyarakat lemah dan miskin menjadi terpinggir dan hanyut dalam arus marjinalisasi perlombaan kelompok masyarakat kelas elit, kaya dan berpunya. Keadilan dalam perepektif Islam adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya secara proporsional dengan prinsip equalitas hukum, kesempatan, hak dan kewajiban. Keseimbangan antara hak dan kewajiban adalah hal yang bersifat mandatori dan tak dapat dipisahkan. Kewajiban seseorang menjadi hak bagi yang lain, dan kewajiban orang lain menjadi hak bagi seseorang. Kewajiban si kaya adalah untuk bersikap prihatin dan peduli, yang menjadi hak si miskin, dan sifat pandai berterimakasih atas sebuah keperihatinan dan kepedulian adalah kewajiban si miskin yang menjadi hak si kaya walaupun hal tersebut tidak boleh dan tidak patut dituntut dan dipinta. Agama Islam mengajarkan kita bahwa siapa yang tidak berterimakasih pada manusia berarti belum bersyukur kepada Allah swt, karena manusia adalah syari’at atau jalan dari sebuah nikmat dan Allah adalah hakikat dari semua nikmat. Majelis ulama Indonesia Kota Dumai pada Muzakaroh Komisi fatwa yang ke IV  yang berlangsung pada tanggal 28 Juli 2012 atau bersamaan dengan 8 ramadhan 1433H bertempat di Sekretariat MUI Kota Dumai, Eks Kantor walikota Jalan HR. Subrantas, telah menghasilkan keputusan untuk direkomendasikan kepada ummat atau Tausiyah seperti berikut: 1. Berdasarkan Mazhab Jumhur As Syafi’i menetapkan bahwa pembagian zakat mal dan zakat fitrah adalah secara proporsional berdasarkan asnaf, bukan berdasarkan jumlah keseluruhan mustahik tanpa membedakan asnaf. 2. Apabila sebuah asnaf tidak memeliki mustahik maka bagian tersebut dapat dialihkan kepada asnaf yang memiliki banyak mustahik. 3. Pembayaran zakat fitrah dapat dilakukan dengan uang atau qiimah ( yang senilai ) karena hal tersebut lebih memenuhi Maqoosid As Syari’ah, karena faqir miskin lebih memerlukan uang dan barang daripada beras saat menyambut hari raya. 4. Faqir dan Miskin yang fasik atau tidak taat melaksanakan kewajiban agama serta sering melalukan maksiat dan dosa tidak Layak menerima zakat, karena zakat adalah harta yang baik yang mesti diberikan kepada orang baik yang taat beragama namun belum menemukan keberuntungan nasib dalam hidupnya. Surah At Taubah ayat 103 menegaskan bahwa harta yang diambil dan dipungut dari orang orang kaya adalah untuk memebersihkan dan mensucikan pemiliknya dengan harta yang dimiliki, maka jika harta tersebut diberikan kepada orang fasik adalah sama dengan membersihkan sesuatu tapi dengan meletakkannya di tempat yang kotor. Janganlah harta yang baik menjadi penambah maksiat dan dosa karena dipergunakan oleh penerima zakat yang fasik untuk hal-hal dosa dan maksiat seperti judi dan tuak atau miniman keras lainnya. 5. Pemalas yang mampu bekerja dan punya kesempatan kerja tidaklah layak menjadi penerima zakat karena agama Islam adalah agama usaha dan perjuangan yang menjadi bagian dari ibadah kita kepada Allah swt.
Dengan tausiyah ini Majelis Ulama Indonesia Kota Dumai Menghimbau seluruh elemen ummat terutama para amil zakat dan muzakki, untuk lebih arif dan bijaksana dalam melaksanakan pembagian dan penyaluran zakat, sehingga yang menerimanya adalah orang-orang yang berhak dan diridhoi Allah swt. 
*** LUKMAN SYARIF Ketua MUI Kota Dumai

Minggu, 13 Maret 2011

MENGGALI HIKMAH DI SEBALIK MUSIBAH

MENGGALI HIKMAH DI SEBALIK MUSIBAH
( Catatan Perjalanan Lukman Syarif, Relawan PMD dan BAZ Kota Dumai )

Petuah orangtua kita bahwa “Tidaklah pokok bergoyang kalau tidak ada angin yang berembus” dan “kalau ada asap tentu ada api” selalu membayangi benak penulis sesaat setelah gempa besar berskala 7,6 yang menimpa saudara kita, ummat Islam di Sumatera Barat. Rasa ingin tahu dan semangat cinta ilmu dan dorongan semangat ukhuwah Islamiyah di dalam hati mendorong penulis untuk mengutarakan sebuah usul sederhana, agar Persatuan Muballigh Kota Dumai mengirim beberapa orang relawan mendampingi relawan Pemerintah Kota Dumai yang dipimpin langsung oleh H. Sunaryo Wakil Walikota Dumai. Alhamdulillah usul ini diterima baik oleh Ketua dan Skretaris PMD Kota Dumai, dan dengan semangat yang sama hal ini kami sampaikan kepada Badan Amil Zakat Kota Dumai agar turut ikut mengirimkan relawan untuk tujuan yang mulia ini.

Dengan rahmat Allah swt rombangan relawan Kota Dumai Pada hari senin 5 Oktober 2009 sekitar pukul 15.00 WIB berangkat menuju Sumatera Barat dengan iring-iringan kendaraan yang terdiri dari 4 buah truk pembawa bantuan sebuah mobil Patroli pengawalan dan 6 buah mobil relawan. Sepanjang perjalanan para relawan muballigh selalu berdiskusi tentang dahsyatnya gempa yang terjadi, sehingga menarik dan menggerakkan hati serta menyentuh rasa kemanusiaan ummat Islam dari seluruh Indonesia untuk datang ke Sumatera Barat menyalurkan bantuan mereka, guna meringankan penderitaan korban gempa yang telah banyak kehilangan harta dan nyawa. Gambaran ini semakin nyata ketika rombongan berhenti di daerah Lubuk Bangku, dan melihat berpuluh-puluh truk bantuan terlihat parkir dengan spanduk melekat; bantuan gempa Sumbar melekat pada dinding setiap truk tersebut.

Penulis sangat terkejut ketika disapa oleh seseorang yang baru turun dari kendaraannya dengan nomor plat Jakarta, bahwa mereka telah berjalan selama 2 hari dua malam, untuk mengantarkan bantuan ke daerah gempa. Baik di Lubuk Bangku maupun di sepajang jalan relawan muballigh memperhatikan banyaknya kendaraan luar daerah yang datang baik sebagai relawan ataupun untuk mengantarkan bantuan. Melihat hal ini, penulis benar-benar merasakan dan menyakini kebenaran Hadis Rasulllah saw bahwa Seorang mukin dan mukmin lainnya bagaikan sebuah tubuh yang apabila salah satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh lainnya turut merasakan derita tersebut. Sekitar pukul 5 pagi rombongan memasuki Kota Padang Panjang dan menunaikan sholat Subuh di salah satu masjid. Pada pukul tujuh rombongan memasuki Kab. Padang Pariaman dan langsung kedaerah Sicincin membagikan bantuan. Ketika memasuki daerah tersebuh kami menyaksikan secara dekat betapa kehancuran terjadi di sana-sini sehingga sangat sulit untuk menemukan rumah yang terselamat dari gempa di daerah Sicincin. Pembagian bantuan ini dengan 10 titik pembagian baru berakhir sekitar pukul 23.00 WIB di Kab. Agam.

Relawan Muballigh dan Baz berjalan mendatangi rumah-rumah yang roboh memberikan nasehat-nasehat ringkas seraya memberikan bantuan kain sarung agar dapat mereka pergunakan dalam beribadah. Dari dialog para Muballigh dengan masyarakat dapat disimpulkan bahwa sebagian kecil ada yang melihat fenomena gempa ini sebagai teguran dan pengajaran dari Allah, yang perlu diambil i’tibar, pengajaran dan semua yang terjadi adalah hasil perbuatan dan prilaku manusia, namun pada sisi yang lain ada yang mengembalikannya kepada fenomena alam dengan mengatakan: ”Di Sumbar ko Pak Kami lah biaso jo gampo, tapi ikolah nan paling gadang”.

Relawan Muballigh dan BAZ Kota Dumai merasa sangat sedih dan terhenyuh ketika melihat banyak masjid yang roboh akibat gempa terutama di Kab. Padang Pariaman dan sebagiannya berada dalam kondisi yang kurang terawat. Setelah selesai menyampaikan tausiyah ringkas seorang ibu yang sudah berusia 70 tahun lebih bernama Rugayah mendatangi penulis lalu berkata; ”Bukan pitih nan kami paralu, tapi ceramah agamo nan lah bapuluah tahun indak kami danga”. Relawan Muballigh menyimpulkan bahwa kehadiran muballigh di daerah gempa adalah sebuah kemestian karena yang memberikan bantuan materi dan medis biasanya banyak, namun sedikit sekali yang datang untuk memberikan bantuan rohani dan spiritual. Marilah kita ambil pelajaran dari peristiwa ini, karena sejahil-jahil manusia menurut Imam Ali adalah orang yang tidak bisa mengambil pengajaran dari setiap kejadian yang terjadi di sekelilingnya. Kita Mesti yakin dan percaya bahwa maksiat kecil dan besar adalah mengundang bencana, sikap cuek dan membiarkan kemungkaran merajalela adalah sebuah upaya mempercepat terjadinya bencana, dan kita mesti yakin bahwa Allah tidak akan menghukum suatu kaum jika mereka benar-benar beriman dan bertakwa. Walllohu a’lam.

Sabtu, 26 Februari 2011

JADIKAN HIJRAH MOMENTUM PERUBAHAN

JADIKAN HIJRAH MOMENTUM PERUBAHAN

1 muharram 1430H adalah sebuah golden opportunity atau kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk melakukan refleksi dan evaluasi kritis dalam bentuk otokritik atau melakukan analisa kritis terhadap perjalanan hidup kita di masa lalu dengan segala warnapwarni kehidupan yang ada di dalamnya. Sesungguhnya perjalanan hidup manusia di dunia ini tak obahnya bagaikan arus sungai yang mengalir dengan derasnya dari hulu hingga ke hilir. Jika kita menemukan adanya kekeruhan di hilir sungai tentunya hal itu sangat erat hubungannya dengan apa yang terjadi di hulu berupa tumpukan sampah atau dampak erosi maupun abrasi . Jika kita berkaca kepada petuah dan pepatah orangtua kita di masa lalu yang pernah berkata: Pokok tak akan bergoyang kalau tak ada angin yang berembus, atau jika ada asap tentunya ada api, tentunya kita dapat memahami konsep kausalitas atau hubungan sebab akibat dalam hidup kita. Pribahasa di atas jelas menunjukkan bahwa hubungan sebab akibat dari tingkah laku dan perbuatan kita dalam kehidupan manusia di dunia ini. Apa yang kita lakukan di masa lalu tentunya sangat berhubungan dengan kehidupan kita hari ini. Jika kita banyak melakukan hal-hal baik dan positif di masa lalu tentunya kehidupan kita hari akan penuh dengan berkah kedamaian, ketentraman dan kebahagiaan, namun jika kita pada masa yang lalu lebih banyak melakukan hal-hal buruk, negatif dan destruktif atau merusak tentunya kehidupan kita pada hari ini akan menjadi suram, penuh masalah dan tak luput dirundung malang dengan masa depan yang kabur dan tidak jelas.

Sesungguhnya kehidupan manusia di dunia ini hanya terbatas pada tiga hari saja. Hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Hari kemarin yang telah berlalu, hari ini yang tidak akan kekal bersama kita, dan hari esok yang belum pasti bagaimana nasib dan keadaan kita. Hari kemarin menjadi sejarah, hari ini menjadi kenyataan dan hari esok menjadi harapan. Kita tidak dapat berbuat apa-apa terhadap masa lalu karena telah menjadi bagian dari sejarah dari hidup kita, namun kita dapat berbuat banyak hari ini dengan segala cara dan upaya kita untuk merangkai hari esok yang lebih baik yang menjadi harapan kita semua. Kesalahan masa lalu hendaklah menjadi pengajaran dan sempadan bagi kita dalam menyikapi kenyataan hari ini dan merencanakan hari esok. Setiap manusia pasti pernah bersalah dan berdosa dalam hidupnya baik secara sengaja ataupun tidak sengaja. Semua kesalahan dan dosa tersebut adalah sesuatu yang dapat dianggap lumrah dan wajar bagi manusia, jika setiap kesalahan tersebut disikapi dengan sebuah keinsafan yang mendalam dan penyesalan serta taubat nasuha, sehingga sebuah kesalahan tidak pantas untuk terjadi dua kali atau berulang-ulang dalam kehidupan seorang Mukmin. Sesungguhnya orang yang tidak sanggup mengakui kesalahan dan dosa yang pernah ia lakukan akan sulit untuk dapat melakukan perubahan dan hal-hal yang baik serta benar di dalam hidupnya.

Ken Blanchard, pengarang buku "The One Minute Manager" menyatakan bahwa kita biasanya bersikap keras dalam mempertahankan keyakinan yang lama dan sukar menerima perubahan karena beberapa sebab atau alasan ;
• Pada saat kita berpikir tentang perubahan, kita sering memikirkan hal-hal yang harus dan mesti kita lepaskan demi perubahan tersebut, bukan hal-hal yang akan kita dapat, berupa keuntungan dari upaya perubahan yang akan kita lakukan .
• Setiap orang mempunyai tahap toleransi yang berbeda dalam menerima sebuah peruba serta keadaan, serta latar belakang psikologis seseorang.
• Adanya kecenderungan yang kuat dan tuntutan perasaan yang bergelora dalam jiwa kita, untuk mempertahankan dan kembali kepada keadaan asal, dengan sebuah keyakinan bahwa keadaan dulu lebih baik dari sekarang.

Plato pernah berkata bahwa; "Kemenangan yang utama ialah kemampuan kita untuk menaklukkan atau mengalahkan diri sendiri." Hal ini di dukung oleh Garfield yang berkata, "Di dunia ini semua benda-benda pada hakikatnya tidak pernah berubah, kecuali ada orang yang merubahnya." Perubahan tidak terjadi tanpa ada penggerak atau sebab, dan perubahan yang paling berat dan paling sukar ialah merubah diri dan pribadi kita sendiri.

Melirik kepada hijrah rasulullah saw yang terjadi pada 1430 tahun yang lalu adalah benar-benar menjadi momentum perubahan bagi ummat. Dari kekufuran kepada Islam, dari dosa kepada pahala, dari permusuhan kepada perdamaian, dari kejahilan kepada nur dan ilmu pengetahuan, dari kehidupan individualistik yang sia-sia kepada kehidupan ummatis yang penuh makna. Semua ini bermula dari keinsafan, kesadaran dan kerelaan setiap elemen ummat untuk merubah pola pikir dan pola hidup mereka. Kita mesti yakin dengan keyakinan yang teguh bahwa segalanya di dunia ini yang bernama makhluk pasti berubah dan yang tetap hanyalah perubahan. Jika kita tidak berubah maka kita akan dirubah oleh zaman, lingkungan dan keadaan. Kita mestilah tampil sebagai arsitek sebuah perubahan bukan hanya berpuas hati menjadi bagian dari sebuah perubahan. Kita mesti mau belajar untuk berubah. Jika kita tidak belajar kita tidak akan berubah, dan jika kita tak berubah berarti kita telah mati pada kehidupan ini sebelum ajal menjemput kita.

MERAIH BONUS ANAK SHOLEH

MERAIH BONUS ANAK SHOLEH
Oleh
LUKMAN SYARIF
Ketua Forum Kerukunan Ummat Beragama Kota Dumai

Kekecewaan dan keresahan jiwa tentunya akan menguasai diri kita, ketika kita memutuskan untuk berbisnis atau berdagang sebagai jalan dan cara kita untuk memperoleh nafkah dan kehidupan yang lebih baik. Segala daya dan upaya kita berupa moril dan materil serta waktu kita gunakan, namun ternyata semuanya berakhir dengan kegagagalan dan kerugian yang membawa penyesalan. Hal yang sama dan serupa juga akan kita alami ketika kita memutuskan untuk bertani. Setelah mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli bibit yang baik dan unggul dan mahal, ternyata hanya berakhir dengan kematian bibit tersebut pada minggu ketiga setelah ia tumbuh subur selama beberapa minggu. Kesedihan, putus asa dan hilang semangat hidup bisa menjadi hal-hal yang membayangi kehidupan kita, sehingga hidup terasa kurang bermakna.

Kiasan di atas adalah gambaran nyata dari sebuah kegagalan memperoleh anak sholeh dalam hidup kita. Banyak harta, materi, jiwa, waktu dan perasaan yang kita curahkan kepada anak kita namun semuanya berakhir dengan kegagalan. Bak kata pepatah; Padi ditanam yang tumbuh adalah lalang, kebaikan berbuah kedurhakaan dan penentangan yang membuat hati orangtua remuk redam karena perjuangan panjang berbuah sia-sia. Sebagai Muslim yang bertakwa tentunya kita siap untuk gagal dan kalah bahkan untuk menjadi pecundang sekalipun, dalam perjuangan pribadi kita, namun kita sama sekali, tidak akan pernah siap dan rela untuk menghadapi kegagalan anak-anak kita.

Sungguh sangat ironi, jika orangtua kita yang terdahulu, dengan segala kekurangan mereka, terkadang hidup dalam kemiskinan yang berkepanjangan dan buta huruf serta hidup di pinggiran desa, ternyata berhasil melahirkan kita sebagai generasi yang lebih baik dari pada mereka, namun kita pada sisi yang lain dengan segala kelebihan yang ada, pendidikan yang lebih tinggi, materi yang lebih memadai belum tentu berhasil melahirkan generasi yang lebih baik dari kita.

Mempunyai anak sholeh adalah sebuah kesuksesan yang besar dan luar biasa, karena kita memperoleh kesuksesan dunia dan akhirat secara bersamaan. Seratus kesuksesan yang kita peroleh tidak akan pernah sebanding nilainya dengan keberhasilan anak-anka kita yang sholeh dan sholehah. Dengan memiliki anak sholeh dan sholeh akan menjadikan kita dapat hidup lebih lama dengan usia yang sangat panjang bahkah ratusan tahun, karena kita telah mewariskan semua nilai-nilai murni dan moral yang utama yang kita miliki dan amalkan kepada anak-anak kita, untuk mereka wariskan kepada anak, cucu dan cicit kita, karena kematian hanya memisahkan jasad kita dari ruh, tetapi segala nasehat, bimbingan dan tunjuk ajar serta semua contoh teladan yan kita wariskan terus hidup dan tumbuh subur pada anak cucu kita. Mendapat anak sholeh bagaikan beranak lalang karena sang anak lebih tajam dan lebih melawan serta menantang dari induknya. Mempunyai anak durhaka, lemah, dengan masa depan yang suram tidak obahnya bagaikan beranak pisang, induknya gemuk anaknya kurus kurang makan serta berbuah kecil dan sedikit. Alangkah bahagianya jika di akhir usia kita, kita dirahmati dengan keluarga yang bahagia anak-anak yang sholeh dan sholehah yang taat kepada Allah dan berbakti kepada kedua orangtua. Rasa lelah terbayar dengan prestasi dan keberhasilan mereka serta keluhuran budi pekerti yang mereka amalkan. Allah berfirman : Hendaklah Orang-orang yang beriman merasa takut untuk meninggalkan generasi yang lemah selepas mereka ( An Nisaa Ayat 4 ). Pada surah Al-Anfaal Allah berfirman: Ketahuilah bahwa sesungguhnya harta dan anak-anak kamu adalah ujian keimanan yang terbesar bagi kamu, Dan sesungguhnya Allah menyediankan balasan pahala yang besar bagi mereka yang berhasil. Walloohu A’lam.