Rabu, 14 Mei 2008

JANJI SEORANG CALON PEMIMPIN

Oleh

Lukman Syarif, MA.

Di tengah rancaknya pesta demokrasi dalam pemilihan kepala daerah ( pilgubri) dan obsesi para calon gubernur untuk terpilih menjadi penguasa nomor satu di daerah ini berbagai macam janji dan harapan coba dilemparkan kepada masyarakat sebagai upaya untuk menarik suara pemilih. Tanpa mereka sadari telah segudang janji dan harapan yang mereka lontarkan di berbagai tempat dan waktu tanpa berpikir ulang tentang daya dan kemampuan mereka dalam merealisasikan janji-janji tersebut, bahkan merekapun mungkin telah lupa dengan apa yang mereka janjikan. Mudah berjanji hanya karena sikap tamak dan obsesi yang berlebihan untuk mencapai kekuasaan adalah sifat yang sangat tercela dan sangat merugikan diri sendiri terutama ummat yang bisanya mudah hanyut dalam bujuk rayu dan angin harapan yang dihembuskan oleh mereka yang tidak melihat kekuasaan sebagai amanat yang wajib dipertanggungjawabkan.

Janji adalah sesuatu komitmen murni untuk melakukan sesuatu yang telah dijanjikan pada suatu waktu yang telah ditentukan. Kedudukan janji dalam rantai kehidupan dan interaksi manusia adalah sesuatu yang tak dapat dipisahkan, sehingga nilai keperibadian seseorang dapat diukur dengan tahap komitmennya dalam memenuhi janjinya. Pepatah Melayu lama mengingatkan kita bahwa: Hewan yang dipegang talinya manusia yang dipegang janjinya. Beberapa tindak kriminal berupa pembunuhan yang bermotif balas demdam sering terjadi di masyarakat, hanya karena kegagalan satu pihak untuk memenuhi janji yang telah ditetapkan bersama.


Kebiasaan untuk mengumbar janji sering terjadi di kalangan pemimpin baik ketika memimpin supaya dianggap baik dan berprestasi atau ketika akan dipilih kembali agar dianggap sebagai seseorang yang memiliki misi dan visi pembangunan yang jelas. Kita mesti sadar dan insaf bahwa bangsa ini telah muak dengan penderitaan dan bosan dengan janji-janji kesejahteraan yang telah mereka terima sejak proses perjuangan menuntut kemerdekaan sehingga hari ini. Apakah kita masih tega untuk terus membohongi rakyat dengan menjual gula-gula harapan dan janji manis setelah mereka hidup selama berpuluh-puluh tahun dengan dengan bertikar derita, berbantal duka dan berselimut kekecewaan.


Kehidupan akhir zaman telah membawa satu dimensi baru dalam pemahaman nilai-nilai murni dan etika kehidupan ummat Islam secara keseluruhannya. Kebohongan sering dianggap kebenaran dan kebenaran sering dilihat sebagai kebohongan sehingga orang lebih percaya kepada kita ketika kita berbohong daripada berkata benar. Seringkali orang yang memperjuangkan agenda ummat dianggap musuh dan mesti diwaspadai, sementara orang yang hanya memperjuangakan kepentingan peribadi dan pandai mengumbar janji seringpula dianggap dan dipandang sebagai pahlawan yang mesti didukung dan disanjung. Ini adalah sebuah tragedi moral dan kemanusiaan yang sangat menyedihkan karena manusia pada akhirnya akan hidup tanpa etika dan tenggelam dalam kesungsangan nilai.


Rasulullah mengajarkan kita untuk tidak meletakkan agenda pribadi mengatasi agenda ummat apalagi sanggup menipu dan menempuh segala macam cara untuk mencapai maksud dan tujuan peribadi. Kekuasaan dunia bukanllah segala-galanya dan terlalu murah untuk kita jual agama, iman dan akhirat kita untuk membeli kekuasaan dunia yang bersifat sementara dan murah harganya. Kekuasaan adalah amanah dari Allah yang Ia berikan kepada hambanya untuk merealisasikan kehendah ( iradah ) Allah di muka bumi, mewujudkan baldatun thoyyibatun warabbun ghofuur ( negeri yang baik, makmur dan mendapat keampunan Allah).

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوْا الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan meninggalkan petunjuk; maka tiadalah beruntung perniagaan mereka dan tidak pula mereka beroleh petunjuk hidayah.

Surah al-Baqarah ( 2: 16 )

Para calon pemimpin ( gubernur ) hendaklah menyadari dan menginsafi bahwa mereka adalah hamba Allah yang tidak lepas dari perhatian dan pengamatan Allah serta pertanggungjawaban di depan Allah Rabbul Jalaal. Perbuatan menipu ummat adalah sebuah penipuan terhadap hati nurani sendiri dan pengkhianatan dan pengingkaran terhadap Allah dan Rasulnya. Setiap dosa pasti akan membawa akibat pada kehidupan dunia dan akhirat seorang pemimpin dan keluarganya bahkan ianya terlalu besar dan berat untuk dihadapi. Ingatlah bahwa dosa dan kebohongan tidak akan membawa faedah dan keuntungan apa-apa sebab sin does not pay. Janganlah lihat kecilnya dosa penipuan yang kita lakukan tetapi lihatlah besarnya akibat yang bakal kita hadapi dan agungnya Allah yang kita ingkari. Sesunguhnya tiada pembohongan yang bersifat tunggal karena setiap pembohongan pasti akan diikuti dengan beberapa pembohongan lainnya untuk membenarkan pembohongan yang pertama. Wallahu A’lam.

أَفَلاَ يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Apakah mereka tidak mahu bertaubat kepada Allah dan memohon keampunannya Padahal Allah Maha pengampun, lagi Maha Mengasihani.

Surah al-Maidah 5 : 74

Kamis, 17 April 2008

PILGUBRI DIYAKINI LEBIH SERU

DUMAI-Mundurnya calon incumbent H.M Rusli Zainal dari jabatannya sebagai Gubernur Riau dan H. Wan Abu Bakar sebagai incumbent wagubri, atau H. Thamsir Rachman dari Bupati Inhu diperkirakan akan membawa angin persaingan menuju kursi Riau 1 semakin seru. Sebab, masing-masing balon tidak bisa lagi menggunakan fasilitas pemerintah untuk proses menarik simpati masyarakat, sehingga calon incumbent akan terlihat apakah dia akan teruji dalam menarik simpati masyarakat tanpa didampingi aparatur pemerintah. Sehingga diyakini juga dapat memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.
"Kalau pejabat incumbent diharuskan mundur, otomatis persaingan antar calon akan semakin seru. Sebab, wibawa, kedudukan dan fasilitas yang mereka gunakan relatif sama dan sebagai calon incumbent harus bersikap fair ketika dia telah menyatakan mengundurkan diri dari kursi jabatannya," kata Lukman Syarif, salah seorang pengamat politik di Kota Dumai, kemarin (9/4). Selain itu, dengan mundurnya calon Incumbent dari jabatannya, otomatis rencana kampanye juga akan berubah. Mulai dari strategi, pendanaan, fasilitas hingga wibawa dan loyalitas masyarakat juga akan berubah.
Kondisi itu, lanjut Lukman, juga akan memberi kesempatan lebih luas bagi calon lainnya untuk bersaing secara terbuka. "Ya jelas calon-calon lain akan lebih semangat. Sebab, mereka akan berkampanye sama-sama sebagai warga sipil. Berbeda dengan calon yang masih aktif menjabat yang memiliki nilai jual lebih tinggi di mata masyarakat. Pertarungan akan terbuka dan fair, dimana tidak ada calon yang lebih istimewa karena dibekali atribut dan fasilitas lebih. Sebab, dengan proses demokrasi seperti itu, pemimpin yang lahir dari proses tersebut merupakan pemimpin yang benar-benar teruji," katanya.(lan)

Rabu, 09 April 2008

DAI DIMOHON DOA HUJAN ATASI KEMARAU DAN KEBAKARAN HUTAN

Dumai-Musim kemarau yang terjadi saat ini di KOta Dumai,mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Kebutuhan air bersih yang selama ini diharapkan warga dari turunnya hujan, saat ini semakin minim, bahkan hampir tidak ada. Sehingga masyarakat mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Kenyataan ini diperparah lagi dengan munculnya kabut asap yang menyelimuti Kota Dumai akibat terbakarnya lahan dibeberapa lokasi, yang beresiko munculnya infeksi pernapasan.
Miswan, warga Jalan Sidorejo misalnya. Ia mengaku, sebelum musim kemarau dirinya hanya membeli air bersih untuk keperluan masak dan memandikan bayinya, namun saat ini Ia terpaksa membeli air bersih dalam jumlah banyak. Air sumur yang biasanya masih bisa dimanfaatkan untuk mencuci pakaian, saat ini tidak dapat dipergunakan lagi karena airnya kuning.
Kesulitan air ini juga diungkapkan Yon Riz, petani di Bagan Besar. Kemarau saat ini menurutnya berdampak buruk bagi hasilpertaniannya. "Sekarang ini kondisinya sulit. Tanaman pada kering, waktu dipanen hasilnya jauh menyusut. Tapi mau bagaimana lagi, karena kalau sudah musim kemarau memang begini resikonya," keluhnya juga.
Menanggapi persoalan yang saat ini terjadi, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Dumai H. Lukman Syarif MA, menghimbau para Khatib Jumat agar mengajak jemaahnya membaca doa minta hujan. Menurutnya, segala musibah akibat kemarau ini hendaknya disikapi dengan lebih menyerahkan diri kepada Tuhan. "Semua masalah ini hendaknya membawa kita kepada kesadaran bahwa Kekuasaan Allah melebihi segalanya"ujarnya.
Disebutkannya, musim kemarau yang melanda kawasan Dumai kali ini telah membawa berbagai permasalahan bagi masyarakat. "Banyak persoalan yang timbul akibat musim kemarau ini. Masyarakat jadi kesulitan mendapatkan air, terjadinya kebakaran lahan, suhu udara tinggi, kabut asap yang membahayakan kesehatan, serta mengganggu ketika berkendaraan dan dampak lain yang tidak bisa dibiarkan," ujarnya.

Menyongsong Pilkada Riau 1

Oleh
Lukman Syarif, MA.
Tahun 2007 adalah starting point yang menandai bermulanya pergulatan politik Riau secara serius dalam skala lokal, dengan bentuk dan nuansa Pilkada Riau 1 pada tahun 2008 nantinya. Jika ditahun 2006 kita menyaksikan manuver-manuver politik para bakal calon ( balon ) dalam bentuk kampanye terselubung dan agenda tersembunyi, maka tirai tersebut akan mulai terbuka dan terungkap sehingga maksud dan tujuan para bakal calon akan dapat dipahami dengan mudah dan jelas. Jika tahun 2006 dipenuhi dengan ucapan-ucapan selamat, baik berupa pemasangan baleho, poster-poster dan iklan-iklan layanan masyarakat di media elektronik dan cetak, maka tahun 2007 diyakini para bakal calon akan berubah trend dengan slogan; Mohon Doa Restu yang biasa dipakai oleh para bakal calon pada pilkada Walikota / Bupati di Provinsi Riau.
Sesungguhnya dinamika politik lokal baik secara makro ataupun mikro terutama sekali yang berkaitan dengan PILKADA Provinsi Riau sejak awal tahun 2006 ini, bahkan jauh sebelumnya, terlihat semakin menggeliat dan mengemuka di dalam pembicaraan dan dialog ataupun diskusi antara sesama warga masyarakat Riau. Pilkada Riau 1 ( Pemlihan Gubernur ) selalu menjadi isu penting dalam pertemuan-pertemuan resmi di kantor-kantor dan di forum-forum ilmiah, dan pertemuan tidak resmi di rumah-rumah, bahkan ianya dibicarakan dan didiskusikan juga di warung-warung kopi. Tiada hari yang berlalu bagi media masa lokal baik cetak maupun elektronik tanpa perlombaan pasar yang ketat dalam memperebutkan kesempatan untuk mensosialisasikan manuver-manuver politik tersembunyi para bakal calon di media masa yang mereka miliki terutama melalui segment kegiatan-kegiatan sosial dan agama ataupun himbauan moral lainnya yang dibungkus dalam kemasan pemberitaan yang menarik dan mengandungi makna atau maksud promosi para bakal calon serta hal-hal strategis lainnya yang menjadi perhatian utama bakal calon gubernur dan wakil gubernur.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa duet kepemimpinan Rusli Zainal dan Wan Abu Bakar sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Riau akan berakhir pada tahun 2008 nantinya, maka Pemilihan Kepala Daerah Provinsi Riau secara langsung oleh Rakyat Riau untuk pertama kalinya pada level provinsi wajib dilaksanakan terlepas dari rasa suka atau tidak suka kita, mau dan tidak mau, sebelum berakhirnya duet kepemimpinan mereka berdua, karena kekosongan kepemimpinan adalah suatu hal yang sangat mustahil dalam sistem pemerintahan di negara kita. Belajar dari proses pilkada pada level kabupaten / kota yang telah berlangsung sebelumnya, dengan cerita dan kisahnya yang tersendiri, serta fenomena umum dengan munculnya beberapa organisasi kemasyarakatan ( ormas ) secara mendadak dan lembaga swadaya masyarakat lainnya ( LSM ) juga secara mendadak dan sporadis bagaikan tumbuhnya jamur di musim hujan. Kehadiran beberapa tokoh baik dari stok lama ataupun baru, angkatan muda yang energik dan reformis ataupun generasi tua yang cenderung konservatif, serta kehadiran beberapa tokoh dan bakal calon yang terkesan karbitan sangat mewarnai pesta demokrasi dan proses suksesi kepemimpinan di tingkat kabupaten/ kota. Aksi dukung mendukung juga timbul berupa penyataan sikap dari beberapa tokoh masyarakat dan tokoh agama ataupun pimpinan organisasi dengan klaim kepememilikan anggota yang banyak, besar dan berpengaruh sebagai media untuk melakukan lobi dan negoisasi ataupun bargaining politik untuk mendapatkan keuntungan politik, sosial dan materi lainya ( political and material benefits ) yang sangat mereka harapkan. Pada pilkada kabupaten / kota juga muncul kelompok-kelompok yang melihat yang melihat event penting ini sebagai momentum bisnis dan kesempatan kerja ( job opportunity ) untuk meraih kepentingan materi yang telah lama ditunggu-tunggu. Para pengiat dunia bisnis telah menghitung dan menilai berapa banyak kesempatan yang ada dan keuntungan yang bakal diraih melalui penyedian alat-alat kelengkapan pilkada yang diperlukan para bakal calon ataupun calon. Secara umum mereka ini memiliki kemampuan persuasif yang tinggi dan pendekatan yang affirmatif sehingga sebagai para bakal calon ataupun calon ada yang menerima tawaran mereka, padahal mereka hanya melihat pilkada sebagai sebuah tender proyek bernilai milyaran, secara tertutup yang bisa dilakukan secara Penunjukan Langsung ( PL ) tanpa harus mengangkaki Keppres 80.
Jika hal-hal tersebut terjadi dalam skala atau tingkat kabupaten / kota, apakah ianya juga bakal terjadi dalam skala atau level provinsi? Para ahli sejarah melihat bahwa sebuah fenomena yang terjadi hari ini tak terlepas dari apa yang terjadi sebelumnya atau bisa dianggap sebagai proses pengulangan kejadian sebelumya dengan skala dan nuansa yang berbeda ( history repeat itself ). Pemikiran ini tentunya sangat berdasar terutama apabila kita melihat mindset ( alur pikir ) dan paradigma masyarakat kita hari ini yang belum mengalami reformasi mindset dan perubahan pola pikir dalam menata hidup dan memperjuangkan sebuah aspirasi terutama hal-hal yang berhubungan dengan keuntungan materi yang masih sangat dominan dalam kehidupan kita. Thomas Kuhn dengan konsepnya Paradigm Shift ( anjakan paradigma ) menyatakan bahwa sebuah masyarakat tidak akan berubah sebelum mereka dengan rela dan terbuka menerima proses perubahan pola pikir dan cara pandang terhadap hidup dan pola hidup yang diamalkan. Kecemasan kaum intelek dan kelompok moralist tentang fenomena di atas adalah sangat logis dan realistik karena semuanya bakal terulang dan terjadi pada helat akbar atau pesta demokrasi terbesar di Riau pada ajang Pilkada Riau 1 nantinya. Untuk pertama kalinya pada pilkada ini kebijaksanaan dan kearifan masyarakat Riau akan diuji dalam menentukan putra terbaik mereka untuk memimpin Riau, menuju masyarakat yang demokratis, maju, adil, sejahtera, agamis, berwawasan internasional, serta memiliki kredibilitas moral yang tinggi dan bermartabat. Proses pendewasaan masyarakat adalah suatu yang wajib agar jurang intelektual, emosi dan spiritual yang selama ini menjadi kendala, dapat dihilangkan dan menyatu dalam sebuah tim pembangunan masyarakat yang solid dan konsistent.

Sabtu, 08 Maret 2008

JADIKAN HAJI SEBAGAI ALAT MEREFORMASI DIRI

Ibadah haji merupakan rukun Islam ke lima yang selalu menjadi dambaan dan puncak harapan serta kesempurnaan hidup bagi seorang Muslim yang benar-benar berusaha untuk mencapai kesempurnaan jati diri, dalam bingkai pengabdian yang sempurna atau Islam yang kaffah sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi, karena ibadah haji adalah puncak pengabdian seorang hamba yang menuntut segala bentuk pengobanan dalam merefleksikan makna Haqqul yakin atau iman yang hakiki. Ibadah haji menuntut pengorbanan materi, jiwa, raga, emosi, waktu dan lain-lain, yang tidak dituntut pada ibadah lainnya, hal ini disampaikan oleh Lukman Syarif, MA. Ketua Forum Kerukunan Ummat Beragama Kota Dumai ( FKUB ) dalam ceramahnya di hadapan Ibu-ibu PKK kota Dumai dalam acara Tepun Tawar melepas calon jamaah haji kota Dumai yang diadakan di gedung serba guna sri bunga tanjung pada hari jumát yang lalu.
Lebih lanjut Lukman Syarif menyatakan bahwa kecenderungan ummat Islam hari ini menjadikan ibadah haji sebagai sebuah ritual biasa yang dilaksanakan dengan maksud dan motif duniawi yang sangat kental, berupa status sosial yang terhormat atau rehabilitasi nama baik dan image pribadi yang tercemar, karena adanya penyelewengan moral yang pernah dilaksanakan sebelumnya, adalah sebuah kesalahan yang fatal dan total, karena sang pelaku berniat menipu Allah swt dan orang-orang yang beriman dengan kemunafikan yang dilakukan. Kita bisa menipu banyak orang dalam satu waktu tetapi kita tidak bisa menipu satu orangpun untuk selama-lamanya. Kita tidak bisa menipu orang lain tanpa menipu diri kita terlebih dahulu. wajarkah kita rela hidup dalam dunia kepalsuan yang kita ciptakan sendiri.
Pada kesempatan tersebut Alumnus International Islamic University Malaysia mengingat para calon jemaah haji untuk memahami terutama ketika berada di tanah suci bahwa hidup adalah sebuah amanah yang agung, besar dan tinggi maknanya namun kita selalu lupa akan makna dan hakikatnya. Allah swt menciptakan kita sebagai makhluk hidup yang sangat berbeda dengan makluk hidup lainnya, karena keberadaan kita di dunia ini tidak sama dengan makhluk lainnya baik secara fungsi dan pola kehidupannya. Kesediaan kita untuk memahami perbedaan ini menjadikan kita benar-benar dapat tampil beda dan berfungsi secara optimal dan nyata dari mahkluk lainnya yang hanya hidup untuk sebuah tujuan yang sempit dan kurang bermakna. Melalui ibadah haji diharapkan para calon jemaah haji berani dan jujur mengakui bahwa kilauan harta dan gemerlapnya kehidupan syahwat telah menjadikan dirinya tenggelam dan hanyut dalam fatamorgana dan hidup yang penuh retorika, sehingga sanggup berusaha secara sungguh-sungguh untuk membangun hidup pada pondasi asumsi dan waham atau prasangka semata, bahwa pangkat, harta, jabatan, pengaruh dan nama adalah segala-galanya.
Sesungguhnya haji yang mabrur secara lebih tegas diyatakan oleh staf ahli Walikota Dumai ini yang telah lebih 15 tahun melanglang buana di negara jiran Malaysia, adalah ibadah haji yang menciptakan proses reformasi hidup pada diri yang meliputi perobahan pola pikir, cara pandang, pola hidup dan orientasi perjuangan hidup yang secara sinergis akan menciptakan sebuah keperibadian yang Islami, berwawasan, penuh tawadhu dan akhlakul karimah. Kita sering berubah menurut keinginan dan tuntutan hawa nafsu kita, atau hanya sekedar mengikuti perubahan zaman dan keadaan masyarakat di sekeliling kita. Haji yang mabrur akan menjadi contoh dan panutan ummat serta dapat tampil tampil sebagai agen perubahan sosial masyarakat menuju ridho Allah swt. Haji yang mabrur akan lebih mengenali hakikat diri yang penuh kelemahan dan kekurangan serta selalu berusaha untuk membenahi diri melalui proses reformasi yang bersinergi dengan proses revitalisasi jati diri seorang mukmin dalam bentuk pengabdian total dan wholistik kepada Allah swt.

Selasa, 05 Februari 2008

PENDIDIKAN DAN POLARISASI SOSIAL



Oleh

Lukman Syarif, MA.

PENDIDIKAN, kunci masa depan bangsa yang cerah, cemerlang, sejahtera, dan harmoni. Pendidikan juga barometer keberhasilan masa depan bangsa yang bercita-cita membangun sebuah peradaban agung serta menjunjung tinggi nila-nilai kemanusiaan sejagat. Dengan konsep pendidikan dan falsafahnya yang berkwalitas, suatu bangsa dapat tersenyum gembira dan tidur dengan lena menanti kehadiran masa depan yang gemilang penuh dengan keberhasilan yang berwarna-warni. Kegagalan membangun dan menghasilkan sebuah sistem pendidikan yang komprehensif, maju, dan mapan pada hakikatnya adalah sebuah kegagalan yang akan menjerumuskan bangsa ke jurang keterbelakangan, keterpurukan ekonomi politik dan budaya, serta kehancuran nilai-nilai kemanusiaan sejagat.


Terminologi bangsa yang besar sering dipakai sebagai sebuah identitas semula jadi ( fitrah ) untuk bangsa Indonesia yang saat ini berpenduduk lebih dari 250 juta, yang terkesan sebagai sebuah bangsa yang besar, kuat dan hebat, walaupun pada hakikatnya ia hanyalah sebuah fatamorgana bagi mereka yang mau berpikir tentang hakikat kebesaran yang terkandung pada terminologi di atas. Kekuatan yang terletak pada angka dan jumlah (numerical strength) biasanya sering dipertikaikan oleh banyak orang karena sering dipandang sebagai sebuah kekuatan yang mengandung banyak kelemahan. Kelemahan ini dapat dilihat dengan jelas dalam lipatan sejarah bangsa kita yang telah beberapa kali menjadi objek penindasan bangsa penjajah walaupun jumlah mereka sangat kecil, jika dibandingkan jumlah rakyat Indonesia pada saat itu.


Sebagai sebuah bangsa dengan jumlah yang besar, kita sendiri mungkin bertanya mengapa masih lemah walaupun kita telah merdeka lebih dari setengah abad? Padahal, bumi kita diberkati Allah SWT dengan kekayaan alam yang sangat banyak. Secara jujur kita akan mengakui bahwa kita sangat terkebelakang sekali jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga yang baru merdeka, baik dari aspek efektifitas pelayan publik yang masih sangat jauh dari mencapai tahap pelayanan prima, bahkan rakyat terkesan menjadi objek ekploitasi beberapa oknum aparatur pemerintah yang menguasai birokrasi kita, fundamental ekonomi yang lemah, stabilitas politik yang masih diragukan dan keamanan dalam negeri yang masih sering dipertanyakan. Sesungguhnya semua kelemahan ini adalah manifestasi nyata dari kelemahan sumber daya manusia yang kita miliki hari ini.

Setelah lebih setengah abad merdeka, kita masih menemukan rakyat Indonesia yang buta huruf, buta birokrasi, buta falsafah hidup dan hakikat perjuangan, dan bangga dengan budaya feodal. Dari 250 juta bangsa Indonesia hari ini hanya 15-25% yang pernah dan sedang menikmati pendidikan di perguruan tinggi yang masih sangat minim dari sudut fasilitas dan sumber daya manusia.


Kesalahan warisan yang masih berlanjut dari dulu sampai sekarang adalah sikap kita yang dengan sengaja melihat pendidikan dengan pandangan sebelah mata. Perhatian serius yang seharusnya diberikan kepada pembangunan pendidikan nasional sejak awal kemerdekaan ternyata tidak pernah menjadi kenyataan, lebik buruk lagi akses kepada pendidikan sangat terbatas sekali, terutama terhadap masyarakat kelas bawah yang miskin dan terasing dari arus pembangunan yang biasanya hanya dinikmati golongan tertentu. Demokratisasi pendidikan yang menjamin kesamaan hak dan akses terhadap pendidikan berdasarkan prestasi dan kemampuan intelektual kurang terlaksana dan bahkan terkesan diabaikan, sehingga polarisasi rakyat terbentuk berdasarkan kemampuan ekonomi dan standar hidup dalam memenuhi tuntutan pendidikan yang semakin hari semakin meningkat dan hampir menutup impian dan harapan masyarakat miskin yang terpinggir untuk menanti hari esok yang lebih cerah.


Jika kita sanggup bersikap jujur dan bertindak lebih profesional dalam menatap barisan kepemimpinan nasional hari ini, kita akan menemukan sebagian besar mereka berasal dari keluarga yang mampu atau pun berasal dari keluarga orang ternama dan terpandang di masyarakat. Hanya sebagian kecil saja pemimpin kita yang berasal dari kelompok masyarakat miskin, lemah, dan tidak berdaya. Sebagai akibat langsung dari polarisasi akses kepada pendidikan sebagian besar masyarakat lemah dan miskin hanya akan menjadi penonton setia menyaksikan peralihan kekuasaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya yang mungkin berasal dari golongan tertentu.
Peralihan ini nyaris terjadi pada semua aspek kehidupan kita, baik dalam bentuk kesempatan kerja, kaderisasi partai, organisasi masyarakat, kampus, dan kuasa ekonomi. Dalam keadaan seperti ini, amat wajar jika seorang anak nelayan atau pun anak petani dan buruh kasar yang telah beberapa keturunan menjadi nelayan, petani, dan buruh kasar di berbagai daerah di Indonesia, terutama di Riau, untuk bersikap apatis terhadap pendidikan nasional kita.


Kehidupan di abad ini menghantarkan kita pada sebuah kehidupan yang berdasarkan teknologi digital (digital society) yang juga mengajak kita untuk berinteraksi dengan konsep perdagangan berdasarkan eletronik (e-commerce), teknologi informatika (information technology), masyarakat berdasarkan ilmu (knowledge based society) dan globalisasi yang telah merubah wajah dunia hari ini menjadi sebuah kampung yang kecil (small village). Di manakah bangsa kita dari semua kemajuan ini? Barapakah tingkat literasi komputer kita (computer literacy)? Apakah kita akan berpuas hati dengan menjadi bangsa pengekspor tenaga kerja yang tidak mahir ( unskilled labour ), walaupun penghinaan dan penindasan majikan asing terus berlangsung? Apakah kita hanya layak untuk dikenali sebagai bangsa yang layak untuk menjadi pekerja kasar? Masihkan pemimpin, hartawan, dan ilmuan kita berbangga dengan apa yang mereka miliki hari ini, padahal mereka dikelilingi oleh rakyat yang lemah, miskin, terbiar, dan tidak terpelajar.
Bangsa kita hari ini dikelilingi bermacam-macam masalah yang semuanya bermuara pada ketidakberdayaan kita dalam melaksanakan pembangunan dan pengembangan pendidikan nasional yang baik untuk menuju hari esok yang lebih cerah. Malaysia sebagai contoh telah berhasil menelurkan ilmuan level PhD. Lebih dari 7000 orang untuk sebuah negara kecil yang berpenduduk kurang dari 23 juta, dengan 20 perguruan tinggi negeri dengan daya tampung 15-25 ribu mahasiswa dan lebih dari 100 perguruan tinggi swasta dengan daya tampung 100-700 orang. Semua perguruan tinggi ini dilengkapi fasilitas yang sangat lengkap dan layak dibanggakan. Dalam satu waktu dapat diperkirakan bahwa hampir 1,5 juta Mahasiswa berada di perguruan tinggi. Malaysia juga berhasil mengirim pelajar-pelajar terbaiknya untuk belajar di luar negeri dengan jumlah yang sangat besar; di Mesir 7000 orang, di United Kingdom 15.000 orang, di USA 10.000 orang, dan di Austaralia 2.500 orang.


Mesir sebagai negara miskin dengan sumber daya alam yang terbatas, juga mampu membebaskan rakyatnya dari biaya pendidikan yang memberatkan rakyatnya, sehingga banyak anak petani dan buruh kasar di Mesir yang memegang gelar Doktor untuk Strata 3. Untuk dapat keluar dari permasalahan yang menyelimuti bangsa kita hari ini, tindakan drastis perlu dilakukan dalam bentuk demokratisasi pendidikan yang menjamin kesamaan hak dan akses kepada setiap bangsa Indonesia terhadap pendidikan dengan membebaskan rakyat dari biaya pendidikan yang sangat memberatkan pundak rakyat Indonesia terutama masyarakat lemah dan miskin, serta menawarkan fasilitas bantuan dana beasiswa kepada mereka yang benar-benar layak dan terbaik dari putra-putri Indonesia atau putra-putri daerah kelahiran Riau untuk melanjutkan studi, baik di dalam maupun di luar negeri.
Kita sangat merindukan kehadiran seorang pemimpin bangsa yang pintar, terpelajar, terdidik, bijaksana, dan berwawasan luas untuk merealisasikan konsep demokrasi yang sebenarnya dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketidakmampuan seorang pemimpin dalam memimpin bangsa dapat disebabkan keterbatasan kemampuan intelektual dalam melihat permasalahan bangsa secara nyata ataupun kelemahan menajerial. Keterbatasan visi dan misi ini terpaksa harus dibayar rakyat dengan harga yang sangat mahal. Wallohu A’lam.

* Penulis adalah Ketua Forum Kerukunan Ummat Beragama Kota Dumai.